Juventus Melawan Bologna dan Kontroversi

01:43 Ubbadul Adzkiya' 0 Comments

Detik.com - Walaupun sudah pernah dihukum, Juventus masih sering diganggu dengan isu kontroversial seputar wasit, yang sudah pasti membuat merah telinga para tifosinya.

Terakhir, kemenangan mereka atas Catania hari Minggu lalu dibahas gencar oleh media-media setempat. Seperti kontroversi Mark Clattenburg yang memimpin laga Chelsea vs Manchester United di Liga Inggris, wasit Andrea Gervasoni dihujani segala tuduhan karena performanya dinilai minus.


Ketika Gonzalo Bergessio menjebol gawang Gialuigi Buffon, Gervasoni melihat asistennya, Luca Maggiani, tidak mengangkat bendera, pertanda tidak ada pelanggaran apapun. Mestinya, gol itu sah.

Namun, para pemain Juve terutama yang di bench melakukan protes. Simone Pepe dan Emanuele Giaccherini yang sedang pemanasan pun sampai ikut menghampiri Maggiani. Maggiani terlihat terus berbicara melalui alat komunikasinya dengan asisten wasit yang bertugas di belakang gawang, Nicola Rizzoli.

Gervasoni lalu berdiskusi dengan para asistennya itu, dan kemudian keputusan diambil: gol tersebut dianulir karena sah. Padahal, dari rekaman video, dalih offside tidaklah terbukti.
Presiden Catania Antonino Pulvirenti meradang. Ia memprotes keras sikap para pemain Juve yang menurutnya mengintimidasi wasit sehingga mengubah pikirannya.

Tapi, sialnya buat "Si Zebra", ketika sebuah (apalagi sering) keputusan wasit menguntungkan Juventus, dosa masa lalu Bianconeri hampir selalu diungkit-ungkit. Konspirasi lebih spontan jadi reaksi fans ketimbang soal performa dan profesionalitas wasit-wasit di Italia.

Perdebatan itu meluas ketika muncul dugaan bahwa Maggiani adalah fans Juventus, berdasarkan akun Facebook yang bersangkutan, yang konon "menyempil" logo La Vecchia Signora. PSSI-nya Italia sudah membantah hal tersebut, tapi untuk menghapus kecurigaan orang tidaklah mudah.

Ketua Juve Andrea Agnelli tentu saja akan terus sibuk membuat bantahan atas setiap tuduhan konspirasi yang masih saja sering dialamatkan kepada pihaknya, seperti yang didapat dari lawatannya di Catania itu.

"Kemarin kami telah menunjukkan profesionalitas yang absolut dengan langsung mengakui kesalahan-kesalahan si wasit, dan itu membuat kalian berpikir ada konspirasi. Kemarin para petinggi kami dihina dan harus meninggalkan Stadion Angelo Massimino dalam keadaan darurat," tutur dia, merujuk pada situasi ketika suporter Catania meneriakkan "Ladri, Ladri, Ladri!" -- atau "pencuri" -- kepada para pemain Juve saat meninggalkan lapangan.

Besok malam, atau Kamis (1/11/2012) dinihari WIB, Juventus akan melakoni giornata kesepuluhnya dengan menjamu Bologna. Mereka akan bertanding dalam situasi yang "sensitif", karena lawan-lawan mereka akan dengan gampang menuduh macam-macam apabila terjadi kontroversi semacam kemarin -- biarpun apologi itu juga masih berlaku, bahwa "wasit juga manusia".

Untuk kalangan lain, menghantam kors pengadil lapangan hijau boleh jadi merupakan tantangan terbesarnya.

"Pulvirenti harus mengunci Rizzoli di ruang ganti!" seru mantan petinggi Juventus, Luciano Moggi.

"Masalah sesungguhnya adalah, para wasit sekarang tidak cukup bagus dan ingin melakukan sesuatu yang lebih dari biasanya, dan ini terjadi dengan Rizzoli. Gol yang dianulir itu sungguh tidak logis. Dia harus dihukum."

Kontroversi kepemimpinan wasit di Italia hampir selalu muncul di setiap pekan. AS Roma, misalnya, sampai dibela bos Palermo setelah mereka kalah 2-3 dari Udinese kemarin, di mana gol terakhir dibuat Antonio di Natale dari tendangan penalti di menit ke-88.

Kartu merah pada Cristian Ledesma dan satu gol Lazio yang dianulir juga jadi perdebatan dari laga kub ibukota itu di markas Fiorentina, yang berkesudahan 2-0 untuk tuan rumah. Bahkan gol tunggal yang memenangkan AC Milan atas Genoa pun diperdebatkan, dengan menempatkan Ignazio Abate dalam posisi offside sebelum Stephan El Shaarawy mencetak gol.

"Hukuman penalti buat Roma di menit-menit terakhir itu sungguh tak bisa dipercaya. Saya betul-betul heran kita tak juga mau memakai teknologi garis gawang," cetus presiden Palermo, Maurizio Zamperini.

0 komentar: