Pernikahan Ubed-Anis dan Kisah Cinta Khoirul Anwar dengan Nama “yang dibayangkan”

20:12 ubbadul adzkiya' 0 Comments

Gambaran kontras tergambar pada dua laki-laki dalam relasinya dengan wanita. Pertama, laki-laki yang konsisten dan berketetapan hati pada satu wanita. Yang menjalani proses ini biasanya hidup tenang, santai dan bisa berpikir untuk hal lain, karena soal pasangan hidup nyaris selesai. Tinggal menunggu waktu yang tepat. Kedua, laki-laki yang berhenti di banyak terminal dengan alasan terus berproses. Umumnya, ia hidup serba tak tentu. Galau, kata anak sekarang. Jika yang pertama adalah Ubbadul Adzkiya', yang kedua, tak lain dan tak bukan adalah Khoirul Anwar.

Pernikahan Ubed dengan Anis Fitria, 12 November 2016, bagi kami yang ada di eLSA maupun adik-adik di Justisia dan Invest, tentu adalah kabar baik. Namun, sesungguhnya hari dan tanggal baiknya memang hanya tinggal menunggu waktu. Kurang lebih 4-5 tahun mereka menjalin relasi. Jadi, merupakan sesuatu yang tidak teramat mengejutkan sesungguhnya ketika dua bulan lalu, Ubed mengkhitbah Anis.

Saya tentu saja mengenal keduanya luar dalam. Dua-duanya adalah adik-adik saya di eLSA, juga Justisia. Dua-duanya mengikuti proses pengenalan dengan sangat smooth. Perkenalan mereka tak hanya dua individu, tetapi juga keluarga keduanya. Mematangkan lingkungan sekitar, sudah mereka tuntaskan sejak awal-awal berelasi.

Perjalanan hidup Ubed menjelang dan pasca lulus nyaris semuanya terekam dalam file memori saya. Ketika tahun 2010 saya berniat mengontrak rumah untuk kantor eLSA di Pandana, Ubed adalah salah satu yang saya tawari karena ketika itu ia tinggal menulis skripsi. “Iya mas, aku ikut. Ingin diarahkan sembari mulai menata masa depan,” jawabnya ketika saya menawari dia. Meski saya dan Ubed berselisih lima tahun angkatan, tetapi kami melewati satu periode bersama. Tinggal di rumah yang sama selama kurang lebih tiga tahun. Kebersamaan yang kami lakoni pada gilirannya melewati batas-batas usia dan angkatan. Saya kemudian pindah ke rumah Bringin dan Ubed pindah ke kantor eLSA yang baru di Perum Depag.

Tahapan yang agak berat dilewati oleh Ubed tentu saja ketika ayahnya meninggal pada 2011. Sebagai anak pertama, ia harus menjadi ayah sekaligus kakak untuk tiga orang adik-adiknya. Di usia yang masih 22-23 tahun, tentu bukan hal yang mudah untuk mengarahkan dan membiayai adik-adiknya serta mencukupi kebutuhan di kampung halamannya di Batang sana. Padahal, boro-boro untuk memikirkan adik-adiknya, kebutuhan sendiri saja masih harus pontang-panting. Saya kerap berkaca pada perjuangan Ubed di tahun-tahun awal ditinggalkan ayahnya. Bagaimana ia melewati momen kedukaan, menerima kenyataan bahwa ia harus menjadi kakak, dan pada satu titik, menyiapkan diri untuk membangun rumah tangganya sendiri, sembari tetap menjalankan fungsinya sebagai ayah.

Di titik inilah, saya kira, kehidupan Ubed sangatlah momentual. Berat, penuh tantangan, tapi mau tak mau, itulah tanggungjawab yang harus dipikulnya. Saat ini mungkin kita hanya menyaksikan Ubed yang melepas masa lajangnya dengan sejuta senyuman. Tapi, masa-masa 2011-2012, adalah ujian hidup yang tak semua orang bisa melewatinya dengan tetap menegakkan kepala. Jika ingin belajar tentang ikhlas, sabar dan ketabahan menghadapi musibah, belajarlah pada Ubed pada masa-masa itu.

Salah satu yang merupakan kelebihan Ubed, sependek yang saya tahu, adalah kematangannya dalam mengelola emosi. Bukan berarti tak bisa dan tak pernah marah. Karena saya tahu, Ubed sangatlah keras dan rada-rada galak kepada adik-adiknya. Tapi yang saya maksud adalah ia cukup dinamis dalam menarik dan mengulur emosi dan perasaan; kapan harus responsif, dan kapan mesti reaktif.

Makanya, meski dalam keadaan harus memberi perhatian lebih kepada keluarganya di kampung halaman, ia tetap fokus belajar. Ubed pun melanjutan studi. Tak tanggung-tanggung, ia belajar di dua kampus untuk Program Pascasarjana. Manajemen Pendidikan di UKSW Salatiga dan Ekonomi Islam di UGM Yogyakarta. Dan kedua-duanya ia tempuh tanpa biaya, alias beasiswa. Di eLSA, hanya dua orang yang menggondol double master, Ubed dan Rofi.

Selama studi Pascasarjana itulah, Ubed (serta Cecep, Yayan dan lain-lain) menjadi garda depan dalam implementasi program-program eLSA. Karena setelah menikah, praktis saya hanya memantau dan mengarahkan saja, jarang sekali terlibat langsung di lapangan. Meski tidak mengarahkan secara langsung, tetapi saya menyarankan Ubed agar tetap ada di lingkungan akademik. Dengan konsisten menggeluti dunia kampus, basis keilmuan akan tetap terjaga. Tak hanya itu, penguasaan basis teoritik yang kuat akan sangat mendukung kerja-kerja advokatif di eLSA. Dan sekarang, frase “masa depan” dalam kalimat “Ingin diarahkan sembari mulai menata masa depan,” yang pernah disampaikannya, mulai tergambar maksudnya.

Pergulatannya dalam melewati lika-liku hidup tentu agak sedikit terbantu karena dalam hal mencari pasangan, ia sudah tak lagi “berhenti di banyak stasiun.” Ubed sudah memantapkan hati dalam rentang waktu yang lama. Meski tidak dalam sebuah ikatan yang memastikan, tetapi gambaran tentang pada siapa hatinya berlabuh, sudah ada dalam bayangan. Dan Anis, dengan sabar dan telaten, menemaninya melewati fase demi fase kehidupannya Ubed. Menemani saat ia ditinggal sang ayah, merawatnya di rumah sakit, mentraktirnya sesekali ketika tak ada uang sepeser pun di kantong Ubed serta momen-momen lainnya, yang seperti umumnya mereka yang sedang merajut kasih, kerap naik dan turun.

Ubed sudah memantapkan waktu dalam hal berproses dengan wanita, sehingga itu menjadi salah satu sebab mengapa ia begitu tenang dan santai dalam menghadapi keadaan.
Situasi berseberangan dialami Khoirul Anwar. Hingga saat ini, perjalanan cintanya sangatlah misterius. Spekulasi demi spekulasi kepada siapa pada akhirnya ia berlabuh, terus bermunculan. Tapi tak lama kemudian, berguguran satu demi satu. Muncul satu nama, nama lain tenggelam. Dan begitu seterusnya. Tak jarang, kalau ia terus menerus ada dalam kegalauan, ketidakpastian. Sembari menghisap rokok dan menyeruput secangkir kopi, ia kerap mengumbar cerita tentang pernikahan dirinya dengan nama-nama “yang dibayangkan.”

Selamat menempuh hidup Baru, Ubed-Anis...

Tedi, Meiga dan Najma

0 komentar: