'Ngalap Berkah' di Justisia

06:55 ubbadul adzkiya' 0 Comments

Ubbadul Adzkiya'
Membaca dengan senyuman mengembang ketika saya diminta oleh pemimpin redaksi majalah untuk mengisi rubrik Justisiana ini. Seakan telah menjadi tradisi bahwa rubrik ini ditulis oleh para alumni Justisia. Padahal saya merasa baru kemarin mengenakan toga tanda berakhirnya studi di Kampus IAIN. Beribu kenangan seakan ingin saya tumpahkan untuk membagi romantisme “proses” saya sebagai wadyabala (bukan Wadyabala Dewa) Justisia . Semoga tulisan ini sekaligus bisa menjadi obat “penolak lupa” bagi saya di tengah-tengah aktitifitas sehari-hari.

Ternyata tidak mudah untuk memulai cerita saya tentang Justisia. Di mata saya, Justisia tidak hanya sekedar sebuah organisasi mahasiswa ataupun organisasi pers mahasiswa (Presma) semata. Jauh lebih dari itu, Justisia adalah the real family.


“Dari manapun, disini anda bisa menjadi apapun”, kalimat yang super sekali -kalau pakai gaya ala Mario Teguh- saya kira bisa dibuktikan oleh semua yang terlibat dalam komunitas kecil ini. Masih ingat betul ketika pertama menginjakkan kaki di kampus IAIN Walisongo dengan naik sepeda motor Astrea Grand 97 bersama almarhum bapak saya. Sebetulnya tidak menjadi cita-cita saya kuliah di kampus ini, karena dulu berkeinginan menimba ilmu di negara Piramida, Mesir. Namun, karena faktor lain-lain, gagal lah harapan untuk kuliah di luar sana.

Akan Tetapi saya sangat bersyukur bisa kuliah di Semarang tepatnya di Fakultas Syariah, bukan karena saya diterima di jurusan yang ada embel-embel “Islam” nya, tetapi karena ada Justisia disana. Coba bayangkan kalau benar saya kuliah di Mesir, tentunya akan menjadi Ubbadul Adzkiya’, LC, sebutan bagi lulusan universitas di Timur Tengah. Jenggot bisa dipastikan akan sedikit panjang dengan pakaian celana cingkrang di atas mata kaki, meski tidak bisa digeneralisirkan seperti itu. Dan akan akrab memanggil teman-teman dengan akhi dan ukhti atau antum. Dan tentu tidak akan mendapatkan kajian-kajian kritis yang dibahas di Justisia, dari Islamic Studies sampai Sosiologi, dan banyak ilmu lain.

Justisia memang bukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) biasa. Dahulu, kalangan mahasiswa secara umum, harus berulang kali berfikir atau setidaknya takut untuk masuk UKM ini. Hal tersebut karena banyak yang menganggap Justisia adalah organisasinya mahasiswa pintar, serta mahasiswa yang tidak pada shalat (ini sekedar anggapan lho!). Setidaknya itulah yang melekat di benak mahasiswa, termasuk saya pada awal menjadi mahasiswa Fakultas Syariah. Awalnya memang Justisia tidak menarik bagi saya dan saya tidak berminat untuk masuk di dalamnya. Namun semua berubah ketika saya bertemu dengan sosok M. Nasrudin. Beliaulah yang mengarahkan untuk daftar di Justisia, karena pada waktu itu kebetulan saya masuk dalam peserta bahtsul kutub pada saat Orsenik. Dengan komunikasi yg terjalin saya pun menjadi murid Emnas (sapaan keren M. Nasrudin). 
Nasrudin memang orang yang sangat berjasa mengarahkan saya ke jalan yang benar, sekaligus yang mencarikan tempat kos gratis, asrama IAIN. (Tetapi berakhir dengan cerita pilu dimana kita harus diusir oleh pihak kampus karena asrama tersebut ditempati mahasiswa program khusus Ushuludin).

Justisia memang membuat kita bermimpi banyak hal tentang masa depan. Mimpi bisa menjadi penulis, wartawan, designer, fotografer, bahkan pengusaha. Kebanyakan orang masuk justisia untuk menjadi salah satu di antara pilihan tersebut.

Ada banyak presepsi kenapa orang masuk justisia, ada yang memang mengimpikan masuk sejak dulu dia masa SMA yang sudah melihat produk justisia. Ada juga yang mendaftarkan karena sosialisasi justisia kepada mahasiswa baru yang hebat. Dan ada yang mengalir apa adanya,seperti saya masuk dalam kategori ini. Pilihan saya terhadap Justisia karena memang lembaga yang pertama dikenal dan kemudian diarahkan oleh mahasiswa senior untuk mendaftarkan diri.

Proses pengkaderan di justisia memang berbeda dengan yang lainnya, justisia selalu menekankan ketotalan dan keseriusan dalam mengikuti semua tahapan yang telah ditata dengan apik oleh suhu-suhu nya meski tentunya sekarang sudah saatnya ditinjau kembali menyesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa sekarang, dan tetap berpergang pada kaidah al-muhafadhotu 'ala al-qadimi al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadidi aslah.

Ingat, semua bisa menjadi apapun di jusisia, bak kawah candradimuka yang bisa menghasilkan orang-orang sukses. Namun ingat di sini hanya tempat untuk berproses bagi orang yang serius, jangan melihat siapa sekarang Mas Rumadi, Kang Manto, Mas Iman Fadhilah, Mas Tedi, dan banyak lainnya dari generasi pendiri sampai termuda yang sudah menyebar se-antero dunia, tapi lihatlah perjuangan mereka dalam melawan kemalasan, serta ketekunan mereka dalam berproses.

Dan yang terakhir berprasangka baiklah kalian semua pada Tuhan, dan sungguh-sungguh dengan apa yang kalian lakukan sekarang. Apapun yang anda pelajari di Justisia tidak akan pernah sia-sia, karena Justisa memberi keberkahan. Buktikan itu. Hanya Allah dan Gus Dur yang Tahu. 

0 komentar: