Seklumit tentang Dialog

01:40 Ubbadul Adzkiya' 0 Comments

Pada catatan ini menjelaskan tentang bagaimana kita melihat tentang penggunaan istilah dialog dalam hubungannya dengan agama lain. Ada yang menyebut dengan dialog antar iman, istilah ini dimengerti sebagai dialog antar umat beragama berbeda iman yang dijalankan secara personal maupun komunal. Ada juga yang menggunakan istilah dialog antar agama, merupakan dialog yang dijalankan oleh umat berbeda agama dengan terorganisir dan secara langsung atau tidak langsung menyangkut institusi agama.
Hemat saya, penggunaan istilah dialog antar agama maupun dialog antar iman merupakan cara pandang seseorang dalam memahami posisi agama dalam sebuah negara. Dialog antar iman digunakan ketika agama tidak dijadikan sebagai sesuatu yang formal, atau lebih mudahnya saya menyebut dengan labelisasi agama “resmi dan tidak resmi”. Sedangkan sekarang di Indonesia sudah ada stempel tentang resmi atau tidaknya suatu agama.

Di Indonesia dengan penggunaan istilah dialog agama akan bermakna sempit sekali, karena agama sudah diresmikan oleh pemerintah, yakni enam agama yang telah diakui. Sehingga yang terjadi hanya proses dialog yang simbolistik, dialog para elit yang dilakukan oleh tokoh agama. Proses dialog belum sampai pada tataran masyarakat bawah, sehingga wajar kalau di masyarakat masih rawan terjadi konfilk antar umat beragama.
Pandangan masyarakat mayoritas muslim Indonesia dalam hal dialog juga sangat mempengaruhi dalam relasi masyarakat dengan non mulim. Terjadi polarisasi pemeluk agama dalam melihat perbedaan. Dalam hal ini, para agamawan (Islam) membagi dalam 3 macam polarisasi:
Sikap Ekslusif, yaitu agama lain dipandang sebagai agama manusia sehingga tidak layak dijadikan pedoman. Umat lain dianggap sebagai umat yang berada dalam kegelapan, kekufuran dan tidak mendapatkan petunjuk tuhan. Dalam hal ini setiap agama pasti mempunyai alasan untuk mengakui bahwa agamanya adalah yang paling benar.
Oleh karenanya, dalam hal pergaulan, mereka (aliran eksklusif) dengan kalangan non muslim tidaklah sebagai persahabatan ataupun persaudaraan akan tetapi untuk dakwah atau misi agar orang lain melakukan apostasi atau pindah agama.
Sikap Inklusif, paradigma ini menyatakan tentang pentingnya memberikan toleransi kepada orang lain, terlebih buat yang mendasarkan pandangan keagamaannya kepada sikap tunduk dan patuh hanya kepada tuhan. Dalam hal ini, sebagaimana penafsiran ayat kedua di atas, kata “Islam” bukan sebagai agama, akan tetapi bermakna berserah diri. Sikap inklusif masih memakai kacamata agama Islam sebagai landasan dalam mencari pembenaran dalam melihat perbedaan. Dalam hal ini, secara tidak sadar sikap inklusif masih menghendaki orang lain menempuh jalan yang sama untuk dirinya.
Paradigma pluralis yang berpendapat bahwa setiap agama memang punya jalannya sendiri-sendiri. Jalan-jalan menuju tuhan tidaklah tunggal. Semua bergerak kepada satu tujuan yaitu tuhan. Tuhan yang satu tidaklah mungkin dapat difahami secara tunggal oleh seluruh umat beragama. Pradigma ini menilai sesuatu yang lain sebagai seuatu yang lain. Dalam hal ini, al Quran menjelaskan dalam surat alkafirun, bahwa agamaku untuk ku dan agamamu untukmu

0 komentar: