Agama dan Perdamaian; Belajar dari Konflik Ambon

01:17 Ubbadul Adzkiya' 0 Comments


sumber: news.liputan6.com
Pasca konflik Ambon Maluku meletus hebat, banyak orang pesimis akan datangnya kedamaian di sana. Mereka merasa pesimis dengan masa depan rekonsiliasi di daerah konflik tersebut. Namun perdamaian dan rekonsiliasi harus tetap diperjuangkan dengan berbagai cara, pasca konflik terjadi ada banyak upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan kemudian pemerintah serta LSM untuk terus menerus tidak kenal lelah untuk sebuah solusi atas konflik dan akibatnya.


Konflik di Maluku yang telah melibatkan hampir semua lapisan sosial masyarakat; elit, menengah, dan bawah mengakibatkan komunitas terpisah antara muslim dan Kristen. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah rujuk sosial, meski ini merupakan solusi yang sangat tepat karena mereka telah terpecah belah, namun harus benar-benar berhati-hati dalam menggali masalah dan menyelesaikan konflik, karena apabila terjadi kesalahan sangat memungkinkan akan menimbulkan konflik baru pasca kerusuhan.



Berbagai upaya untuk mengatasi konflik sudah dilakukan dari berbagai pihak, masyarakat sipil, tokoh agama, pemerintah pusat dan lokal, LSM, serta lembaga internasional. Dari sekian banyak inisiatif yang dilakukan ada yang berhasil merintis rekonsiliasi, namun ada pula yang gagal dan bahkan memicu konflik berikutnya karena kurang sensitifnya terhadap situasi konflik yang ada.


Salah satu yang berhasil tentu saja mereka yang berhasil mengakar di masyakat, dan benar-benar memahami akar dari konflik. Mereka yang memegang nilai-nilai universalitas dan bisa diterima di semua kalangan akan sedikit lebih mudah dalam memecahkan solusi atas konflik. 

Semisal keberhasilan Tim 20 Wayame yang berhasil memegang prinsip dan kesepakatan bersama untuk; saling terbuka, saling jujur, saling mendukung, saling menerima, saling ikhlas bekerja, dan beriman teguh pada nilai ketuhanan. Meskin mereka sering mendapat tantangan dan ancaman dalam bekerja memelihata hubungan kemanusiaan, namun dengan memegang teguh dan saling melindungi satu sama lain mereka dan warganya berhasil selamat dari kehancuran.


Tentu saja penyelesaian konflik dengan skala besar harus melibatkan pemerintah, baik lokal maupun pusat. Melihat keadaan Maluku yang begitu rumit perlu ada ketegasan dan koordinasi dari pemerintah pusat dengan pihak kemanaan terkait (militer-polisi). Ketika pemerintahan Gus Dur, pemerintah mulai memperhatikan secara serius dan menangani secara cepat konflik Maluku tersebut, Gus Dur mengutus Wapresnya, Megawati, untuk bertanggungjawab dalam penyelesain konflik tersebut dengan mengkoordinasikan kepada pihak menteri terkait, Menko Polkam dan Menko Kesra dan Taskin.


Tiga pendekatan yang digunakan dalam menangani konflik Maluku, yaitu pendekatan kemanan di bawah Menko Polkam, pendekatan rekonsiliasi langsung di bawah Wapres dan dilanjut Menteri Agama, dan pendekatan rehabilitasi di bawah Menko Kesra dan Taskin. Nampaknya dalam penyelesain konflik perlu ketegasan dan koordinasi yang aktif antar semua lini baik pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, masyarat sipil, dan LSM. Selain LSM dan masyakat umum, pemerintah juga menjadi kunci untuk penangan cepat dalam penyelesain konflik. 

0 komentar: