Mencecap Pengalaman “Buntet” di Hutan Rimba

20:58 Ubbadul Adzkiya' 0 Comments


Buku ini menunjukkan bahwa belajar tidak hanya bisa dilakukan di ruang-ruang ber-AC dan berbiaya mahal. Butet, peraih gelar S-2 bidang Antropologi Terapan dan Pembangunan Partisipatif di Autralian National University, Canberra, ini memberikan bukti riil bahwa pengalaman adalah guru terbaik bagi siapa pun. Bukan hanya bagi orang-orang rimba yang, oleh kebanyakan orang disangka tidak “berpendidikan”. Melainkan juga bagi dirinya sendiri, seorang yang secara akademik menempuh jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi.
Ya, buktinya “Buntet”, demikian anak-anak rimba memanggil Butet, belajar banyak hal di sana. Apa yang dirasakan oleh Buntet selama bertahun-tahun hidup di hutan Rimba bisa menjadi pembelajaran penting. Ia harus mengubah gaya hidup di kota yang serba ada.
Di Rimba, ia harus menyesuaikan diri, mulai dari lingkungan, sikap-sikap orang rimba, cuaca, hingga tempat tinggal. Singkatnya, perubahan situasi yang didapatkan Butet sangat mencolok jika harus membandingkan antara keduanya.
Awalnya, sesampai di hutan rimba, Butet sempat dihinggapi keraguan. Akankah situasi yang baru tersebut bisa diterimanya? Di kota tempatnya tinggal, segala sesuatu bisa didapatkan dengan mudah. Tanpa harus bersusah payah, asalkan memiliki uang melimpah. Namun, di hutan itu, ia harus menyesuaikan diri sekeras mungkin. Ia harus rela tidur di tempat yang ala kadanya. Tempat yang jorok, hutan yang tidak rapi pernah membuatnya berkecil hati, bisakah ia bertahan. Akhirnya, ia sadar bahwa justru karena hutan memiliki keadaan yang tidak menyenangkan lah alasan Butet ke sana. Ia memantapkan niat bahwa pada tahap yang seperti itu cintanya tengah diuji, hal 13.
Setelah cukup lama tinggal bersama dengan orang rimba, Butet merasa kasihan dengan kondisi yang tengah mereka alami. Tidak hanya kondisi fisik, tapi juga kondisi mental. Banyak sekali kejadian yang dialami oleh orang rimba yang tertipu oleh orang kota. Contohnya, ketika orang rimba melakukan transaksi jual beli hasil kayu. Orang rimba yang tidak pernah menguasai hitung-menghitung kerap kali ditipu, hal 65. Hal ini mencemaskan Butet, hingga akhirnya dia bersama kawan-kawannya berinisiatif untuk mendidik mereka.
Niat baik itu tidak berjalan mulus. Banyak rintangan yang harus dihadapi. Rintagan paling membuat Butet berkecil hati justru datang dari orang rimba itu sendiri. Pasalnya, niat baik Butet untuk mendidik anak-anak rimba justru disangka akan memperarah keadaan. Orang rimba akan menjadi orang lain, menuru mereka. Butet mencoba menjelaskan itu. Ia tidak mau, orang rimba ditipu karena ketidaktahuan mereka. Butet memberikan analogi, mau sampai kapan hasil jerih payah orang rimba tidak dihargai dengan yang sepantasnya oleh orang luar/kota. Lewat celah itu, awalnya, sokola (baca: sekolah) rimba bermula.
Akhirnya, anak-anak rimba merasa tidak rela menjadi korban dari orang luar. Mereka berhak atas jerih payah yang dikeluarkan. Kebutaakasaran tidak lantas membuat mereka terus diekplotasi dalam jangka waktu yang lama. Mereka ingin memutus lingkaran setan penipuan itu. Pada titik ini, mereka tersadarkan bahwa “pendidikan” memang penting. Pendidikan di sini tidak diasosiasikan dengan lembaga formal layaknya sekolah-sekolah di kota. Melainkan konsep sederhana yang bisa memberikan kemawasan terhadap orang-orang rimba. Setidaknya memberikan kesadaran bahwa ada bahaya yang mengancam mereka. Hal itu akan semakin tidak bisa diprediksikan jika mereka tidak bisa menyiasati potensi tersebut.
Maka, dengan berbagai pertimbangan yang ketat, orang-orang rimba menerima “pendidikan” yang disodorkan dengan diam-diam oleh Butet. Gayung bersambut, Butet pun memberikan berbagai macam pancingan. Awalnya memang tidak mudah mengenalkan orang-orang rimba dengan hal-hal baru. Bahkan, untuk membaca arah jam tangan saja, mereka tidak mengetahui. Namun, seiring dengan waktu, Butet menyadari bahwa potensi orang-orang rimba untuk, setidaknya, mempertahankan diri dari gempuran orang luar sangat besar. Mereka bisa mempertahankan identitas mereka sendiri dengan budaya-budaya lokal yang dimiliki.
Sokola Rimba memberikan gambaran riil mengenai perjuangan Butet dan orang-orang memperjuangkan eksistensi mereka. Di tengah gemerlap dunia luar, ternyata, banyak kearifan lokal yang masih bercokol kuat. Dalam hal ini, antara Butet dan orang-orang rimba saling memberikan pembelajaran. Jika Butet memberikan pelajaran untuk menghadapi orang-orang luar, di saat yang bersamaan, orang-orang memperlihatkan cara alami bagaimana hidup dan bersatu dengan alam yang indah itu. 
Judul: Sokola Rimba 
Penulis: Butet Manurung 
Penerbit: Kompas, Jakarta 
Terbit: Pertama, 2013 
Tebal: 347 halaman

Dimuat di Koran Jakarta, 16 Desember 2013

0 komentar: