Hakikat dari yang Sakral Eliade

01:56 Ubbadul Adzkiya' 0 Comments

Ubbadul Adzkiya’
Eliade (1907 - 1986) adalah seorang tokoh yang sangat berpengetahuan sangat luas dan mempunyai talenta dalam karya tulis fiktif dan mengabadikan seluruh hidupnya kepada studi tentang perbandingan agama. Kalau kita telah mengupas teori yang dikemukakan oleh Freud, Dukheim, dan Marx yang bagi Eliade adalah terlalu reduksionis. Kritikan eliade terhadap ketiganya sangatlah keras, baginya teori reduksionis merupakan kesalahpahaman paling fatal dalam memahami peranan agama bagi kehidupan masyarakat, baginya yang paling tepat menggunakan pendekatan humanistik.

Pijakan dasar yang dipakai oleh Eliade dalam menghasilkan teori-teori adalah dua aksioma sebagai bangunan dasarnya. Pertama, posisinya yang sangat berseberangan dengan kamum redoksionis, Eliade sangat yakin terhadap keindependenan atau keotonomian agama yang menurutnya tidak bisa hanya diartikan sebagai produks “realitas yang lain”. Agama baginya harus dipahami sebagai sesuatu yang konstan (variabel independen), sedangkan aspek-aspek kehidupan lain seperti social, psikologis, ekonomi, harus bergantung pada agama.


Kedua, merujuk pada metode yan dipakai, bagi Eliade dalam memahami agama kita harus menggunakan ‘phenomenology’ yaitu studi komparasi tentang bentuk sesuatu atau penampakan yang dimunculkan sesuatu itu kepada kita, pada hakikatnya sebagian ilmu adalah fenomenologi. Kita akan mengetahui tentang agama baik kepercayaan atau ritualnya adalah dengan jalan membandingkannya dengan agama-agama lainnya.

Di masyarakat sudah umum istilah yang sakral dan yang profan,  dua isitilah yang dimunculkan oleh Durkheim dalam peneletiannya tentang masyarkat. Eliade mempunyai pandangan yang berbeda tentang kedua istilah tersebut. Ketika berbicara tentang yang sakral, Eliade menganggap kepercayaan klan ini tidak sama seperti yang dipikirkan Durkheim. Menurutnya, fokus perhatian agama adalah supernatural, sifatnya mudah dimengerti dan sangat sederhana. Agama terpusat pada dan dari yang sakral, bukan hanya sekedar menggambarkan agama seperti yang dilihat dari kacamata social. Meskipun dia sepakat dengan istilah yang digunakan oleh Dukheim namun dalam pendefenisian agama sebagai kepercayaan lebih dekat dengan Tylor dan Frazer.

Eliade memaksa kita untuk berfikir kembali tidak hanya tentang Durkheim, tapi juga tentang seorang ilmuwan lain yang jadi pembimbingnya. Sehingga konsep Eliade tentang yang sakral yang dipengaruhi oleh konsep Otto. Eliade mengatakan bahwa dalam perjumpaan dengan yang sakral, seseorang merasa disentuh oleh suatu yang nir-duniawi. Tanda-tanda orang yang mengalami perjumpaan ini diantaranya, mereka merasa sedang menyentuh satu realitas yang belum pernah dikenal sebelumnya, sebuah dimensi yang eksistensi yang maha kuat, sangat berbeda dan merupakan realitas abadi yang tiada bandingannya.

0 komentar: