Mozaik Peradaban Dua Agama

21:16 Ubbadul Adzkiya' 0 Comments


Sejarah perjumpaan islam-kristen
                 Buku               : Sejarah Perjumpaan Islam-Kristen, Titik Temu dan Titik Seteru Dua Komunitas Agama Terbesar di Dunia

Penulis            :Hugh Goddard

Penerbit         : Serambi, Jakarta

Terbit             : pertama, Januari 2013

Tebal              : 402 halaman
Peresensi      : Ubbadul Adzkiya'



Data-data yang dibubuhkan dalam buku ini menjelaskan realitas kekinian ihwal hubungan dua agama besar dunia: Islam dan Kristen. Periode demi periode, dua agama ini memiliki sejarah “yang tak berkesudahan”. Laiknya dalam kontestasi politik, Islam dan Kristen memperebutkan roti yang sama di seluruh penjuru dunia.

Tak heran jika hingga kini, persinggungan di antara keduanya kerap memunculkan pesimisme. Perseteruan itu, ternyata, sebagaimana dicatat oleh Hugh Goddard, telah merentang sejak dulu kala. Goddard mengawali diskusi dengan menampilkan pelbagai argumentasi teologis dari masing-masing agama. Hal ini sebenarnya wajar karena subjektifisme tidak akan pernah lepas menghegemoni pandangan keagamaan.

Di panggung sejarah, Nabi Muhammad merupakan tokoh yang bisa bergaul dengan siapa pun. Selama hidupnya, Goddard menjelaskan, Muhammad sering berhubungan dengan kaum Kristen dan lebih sering dengan orang Yahudi. Setelah Muhammad wafat (632/11), perlakuan Muhammad terhadap penganut kedua agama itu dijadikan acuan. Pilihan politik nabi ini menjadi semacam proposal untuk menirunya.

Lewat buku ini, Goddard menyelipkan optimisme terkait dengan masa depan dunia yang—tidak bias dimungkiri—berada di tangan kebijakan pemeluk dua agama ini. Berbicara tentang Perjanjian Baru (hal 30), Goddard memposisikan diri netral. Menurutnya, seringkali terjadi salah tafsir dalam menerjemahkan sebuah ayat. Dua ayat (Yohanes 14:6 dan Kisah Para Rasul 4: 12) harus dilihat dengan seksama.

Disebutkan oleh peneliti mutakhir bahwa ungkapan keselamatan itu harus dipahami dalam konteks komunitas Yohamit yang sangat sektarian. Klaim keselamatan itu, merunut latar belakang sosialnya bercerita ketika menyembuhkan orang lumpuh di Bait Allah. Peringatan Goddard ini memberikan penekanan bahwa dalam membaca sebuah teks keagamaan, seseorang tidak boleh hanya mendasarkan diri pada “teks mati” tanpa mau menelisik lebih jauh: apa dan mengapa teks itu bisa hadir.

Dalam ilmu tafsir, terdapat kajian yang secara khusus menjelaskan bagaimana peran sabab an-nuzul (sebab turunnya ayat) sangat berpengaruh signifikan terhadap cara pandang. Berbekal pengetahuan yang komprehensif mengenai sabab an-nuzul, seseorang tidak akan gegabah memahami teks keagamaan tanpa terlebih dulu berjibaku dengan banyak penafsiran yang melingkupinya. Dan, sepertinya, hal itu yang sering menimbulkan sengketa.

Sebagai dua kekuatan yang memiliki pemeluk terbesar di dunia, Islam-Kristen tentu mempunyai “agen” tersendiri untuk menyelamatkan muka di hadapan masyarakat global. Untuk itu, buku ini, bisa ditempatkan sebagai referensi membangun dialog harmonis. Itu tercermin dari sejarah perjumpaan yang dijelaskan Goddard secara gamblang. Interaksi salingketerhubungan itu bias disimak dalam Bab Gelombang Kedatangan Islam  dan Era Pertama Perjumpaan Kristen-Islam.

Satu hal yang tak bisa ditampik adalah bahwa masa lalu yang kelam di antara keduanya memang bagian dari tinta sejarah. Namun, masa depan yang lebih damai ialah hak kita untuk memperjuangkannya menjadi kenyataan. Itu sebuah tugas. Buku ini, di samping meramu belang sejarah juga membentangkan petuah untuk berbenah.

Yang menjadi keresahan dosen senior Teologi Islam di University of Notthinggham ini—seraya berharap—berbekal pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan Kristen-Islam di masa lalu, mestinya bias membangun hubungan yang lebih harmonis. Di masa kini dan nanti, eksistensi keduanya tidak memicu konflik yang berulang. Sebaliknya, menumbuhkan optimisme bahwa tiap agama membawa misi yang baik.

Dengan menampilkan dua titik temu dan dua titik seteru di antara dua komunitas agama terbesar di dunia, Hugh Goddard mencoba mendudukkan permasalahan sama tinggi-sama rendah. Tidak ada yang mendominasi satu sama lain. Justru, dengan begitu, kran toleransi akan lebih terbuka lantaran keduanya sama-sama dikupas dengan bersahaja. Bahwa, baik Islam maupun Kristen—sebagaimana agama-agama lain—memiliki narasi positif dan negative di belantara sejarah masa silam.

Apa yang dilakukan Hugh Goddard ini merupakan langkah bagus demi merajut dunia yang penuh damai di antara sesama. Upayanya menampilkan sisi dua agama dalam memandang satu dengan yang lain bisa dimaknai sebagai upaya menjadi netral tanpa harus mengorbankan satu belah pihak.

Ibarat ada sebuah konflik, Goddard terlihat ingin berdiri di tengah. Bukan dalam rangka mengadu domba, justru mendamaikan agar bisa berjalan beriringan membangun kebudayaan dunia yang beradab. Absennya intelektual yang memposisikan diri sebagai “penengah” bisa mengancam keberlangsungan tatanan dunia yang diinginkan bersama.






0 komentar: