Mempertahankan Idealisme Kebebasan

16:55 Ubbadul Adzkiya' 0 Comments


Film Ca Bau Kan

Review Film Cha Bau Kan
Sebuah Film yang rumit untuk dipahami bagi saya, karena terlalu banyak teka-teki di dalamnya. Tapi paling tidak saya akan sedikit menggambarkan tentang perjalanan film cha bau kan. Sekilas kalau memandang secara global film ini menceritakan tentang nasib perempuan pada masa tahun 1900, nasib siti nurhayati atau akrab dipanggil Tinung. Wanita pemuas libido kaum lelaki hidung belang.
Film ini juga diperankan ferry salim yang berperan sebagai pengusaha kaya dari semarang, karakter yang dibangun adalah seorang yang memang “gila perempuan” dia memandang perempuan dari paras mukanya. Namun pada akhirnya dia menemukan wanita sejati yang bisa mengerti akan kebutuhan cintanya, dengan penuh kasih sayang Tinunglah yang menjadi pujaaan hati dari sang saudagar muda kaya.




Ada banyak kasus dalam film ini, dari masalah hukum, nasionalisme. Sedikit menyinggung di mana film ini pada akhir cerita ternyata banyak menyinggung tentang perjuangan kemerdekaan. Sebuah perebutan dari awal mula penjajahan belanda hingga akhirnya Indonesia jatuh di tangan Nippon.
Namun, ada satu hal yang mungkin terlupakan oleh kawan-kawan, pada saat itu pers sangat berperan untuk menjadi kontrol sosial, sekaligus informasi bagi masyarakat. Dan sungguh independnsi dari sebuah media/pers sangat dipertarugkan. Ketika masa itu sudah ada upaya untuk membungkam pers, apalagi zaman sekarang?
Hal ini saya kira yang menarik untuk disorot bagaimana begitu besar peran media dalam pengalihan isu, atau pun untuk memberi kabar bohong ketika pers sudah tidak bebas. Ini menjadi menarik jika kita tarik ke kehidupan masa kini, media menjadi lahan bisnis itu pasti. Tapi harus mempunyai etika yang wajib dipertahankan. Kebebasan dan independensi dalam memberitakan sesuat. Dengan tidak mementingkan mereka kaum berduit yang bisa membungkam sebuah kebenaran. Dalam film tersebut ada contoh menarik ketika seorang wartawan yang diundang makan malam dan diberi uang saku, akhirnya pun uang itu dikembalikan. Tauladan yang baik saya kira namun itu jarang terjadi sekarang, entah kenapa mungkin benar sekarang uang adalah segalanya.
Tapi setidaknya ini menjadi pelajaran untuk mencontoh sedkit pesan yang disampaikan, sebagai anak muda yang kelak akan memegang bangsa ini, bangsa yang besar yang multikultur. Dan juga multi kepentiangan yang berbeda di setiap otak manusia. Dan menjadi PR bagi kita generasi pers mahasiswa yang di masa depan mungkin bisa mengabdi dengan tetap menjaga idealisme sebagai pers, yang turut berperan sebagai kekuatan bangsa, sebagai kontrol terhadap pemerintah yang berkuasa. Semoga! Allahu a’lam

0 komentar: