Kalau kita mau melihat sejarah fase perkembangan orientalisme, paling tidak kita bisa melihat dari beberapa fase berikut seca...

Orientalisme Kontemporer

19:45 Ubbadul Adzkiya' 0 Comments


          Kalau kita mau melihat sejarah fase perkembangan orientalisme, paling tidak kita bisa melihat dari beberapa fase berikut secara garis besar; pertama, masa sebelum meletusnya perang salib. Kedua, masa perang salib sampai masa penceraha eropa. Ketiga, munculnya masa pencerahan di Eropa sampai masa sekarang ini.  

        Pada masa sekarang ini rasio mulai meningkat, dimana sebuah tulisan yang dibutuhkan adalah objektif, bukan mengada-ada. Mulailah muncul karya-karya mengenai Islam yang mencoba bersifat positif, misalnya tulisan Voltaire (1684-1778) dan Thomas Carlyle (1896-1947). Tidak semua tulisan mengenai Islam mengandung serangan-serangan dan menjelek-jelekkan, akan tetapi mulai ada penghargaan terhadap Nabi Muhammad saw dan Alquran serta ajaran-ajarannya.

        Setelah masa pencerahan datanglah masa kolonialisme. Orang Barat datang ke  dunia Islam  untuk berdagang dan kemudian juga untuk menundukkan bangsa-bangsa Timur. Untuk itu bangsa-bangsa Timur perlu diketahui secara dekat, termasuk agama dan kultur mereka, karena dengan itu hubungan menjadi lancar dan mereka lebih mudah ditundukkan. Pada masa ini muncullah karya-karya yang mencoba memberikan gambaran tentang Islam yang sebenarnya (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1999:56). Misalnya, tentang agama dan adat istiadat Indonesia, mucnul tulisan-tulisan Marsden, Affles, Wilken, Keyser, Snounk Hurgrunje, Vollenhoven dan sebagainya. Bahkan pada saat Napoleon datang ke Mesir pada tahun 1789, ia membawa sejumlah orientalis untuk mempelajari adat-istiadat, ekonomi, pada petanian Mesir. Di antara orientalis itu adalah Langles (ahli bahasa Arab), Villteau (mempelajari musik Arab), dan Marcel (mempelajari sejarah Mesir).

       Pada periode ini tulisan-tulisan orientalis ditujukan untuk mempelajari Islam seobjektif mungkin, agar dunia Islam diketahui dan dipapahami lebih mendalam. Hal ini perlu karena orientalisme tidak bisa begitu saja terlepas dari kolonialisme, bahkan juga usaha kristenisasi  (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,1999:57; Hanafi, 2000:27).

       Namun begitu, awal abad ke-20 juga ditandai dengan munculnya para orientalis yang berusaha menulis dunia Islam secara ilmiah dan objektif. Orientalisme dijadikan sebagai usaha pemahaman terhadap dunia Timur secara mendalam. Dalam tradisi ilmiah yang baru ini, bahasa Arab dan pengenalan teks-teks klasik mendapat kedudukan utama. Di antara mereka itu adalah Sir Hamilton  A.R. Gibb, Louis Massingnon, W. C. Smith, dan Frithjof Schuon.

      Sir Hamilton A. R. Gibb sangat mengusai bahsa Arab dan dapat berceramah dengan bahasa Arab, sehingga ia diangkat menjadi anggota al-Majma' al-'Ilm al -'Arabi (Lembaga Ilmu Pengetahuan Arab) di  Damaskus dan al-Majma' al-Lughah al-Arabiyah (Lembaga Bahasa Arab) di Cairo, Mesir. Ia memandang Islam sebagai agama yang dinamis dan Nabi Muhammad saw mempunyai akhlak yang baik dan benar. Gibb menulis buku tentang Islam dalam berbagai aspeknya sehingga mencapai lebih dari 20 buah, sehingga oleh orientalis lain ia dipandang sebagai Imam mereka tentang Islam.

      Sama seperti Gibb, Louis Massingnon juga mahir berbahasa Arab dan menjadi anggota al-Majma' al-Ilm al -'Arabiy serta al -Majma' al-Lughawi. Ia pernah menjadi dosen filsafat Islam di Universitas Cairo. Ia mengatakan bahwa berkat adanya tasawuf, Islam menjadi agama internasional yang pengiktunya ada diseluruh dunia  (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,1999:57).  

        W.C. Smith mempunyai ilmu yang mendalam tentang  Islam. Ia adalah pendiri Institut pengkajian Islam di Universitas McGill di Montreal, Canada. Ia mengatakan bahwa Tuhan ingin menyampaikan risalah kepada manusia. Untuk itu Tuhan mengirim rasul-rasul dan salah satu di antara rasul itu ialah Nabi Muhammad saw.

        Frithof Schuon menulis buku dengan judul  Understanding Islam yang mengdapat sambutan baik di dunia Islam. Sayid Hussein an-Nashr (ahli ilmu sejarah dan filsafat), misalnya, menyebut buku tersebut sebagai buku terbaik tentang Islam sebagai agama dan tuntutan hidup.

        Meskipun demikian, tidak semua pendapat yang ditulis oleh para orientalis modern tentang Islam dapat diterima oleh rasa keagamaan umat Islam, meskipun secara rasional pendapat tersebut benar. Beberapa di antara mereka tidak luput dari kesalahan dalam memberikan interpretasi terhadap ajaran-ajaran Islam, di samping juga banyak yang benar.

0 komentar: