Sedikit Pandangan tentang Barat dan al Qur’an

04:17 Ubbadul Adzkiya' 0 Comments

Kajian al Qur’an menjadi magnet tersendiri oleh orang barat, kajian yang pertama dimulai sejak pertengahan abad ke-12, sejak kunjungan Peter the Venerable, seorang paderi dari Cluny ke Toledo. Ia menugaskan sarjana untuk memproduksi karya yang menjadi basis keilmuan terkait keislaman, sebab perhatiannya terhadap permasalahan yang menyangkut Islam.

Ada banyak ilmuwan barat yang mempelajari al Qur’an diantaranya; Geiger, menyimpulkan bahwa kosa kata dalam alQuran; tabut, taurat, jannatu adn, jahannam, ahbar, darsa, rabbani, sabt, taghut, furqan, ma’un, mathani, malakut, berasal dari bahasa Ibrani. T. Noldeke, menggunakan pendekatan kritik sejarah, dengan menggunakan skema kronologis yang membagi masa pewahyuan menjadi tiga periode Makah dan satu periode Madinah. Arthur Jeffry, dia menggunakan kritik sejarah al Quran dengan mengeksplorasi naskah-naskah yang telah ada. Dengan kata lain, ia juga memakai pendekatan filologis. Rippin, mengkritisi sejarah otentitas Al Qur’an karena tidak terdapat bukti sejarah yang kuat. Asbabul Nuzul (sejarah turunnya ayat) disusun dengan metode rekonstruksi (dibuat setelah puluhan tahun terjadi) dan dimungkinkan terjadi ketidak-jujuran dan kesalahan perawi dalam menulis hadits mengenai Asbabul Nuzul. Dan tentunya masih banyak ilmuwan lain yang mempelajari al Qur’an.

Ada banya motivasi yang menjadi ketertarikan orang barat dalam mempelajari al Quran, ada yang memang murni untuk kebutuhan akademik, sebagai sebuah penelitian objektif. Ada juga yang kemudian mengatakan bahwa motivasi mereka lebih pada bagaimana strategi barat dalam menguasai atau ‘menjajah’ islam.
Sebagai sebuah kajian akademis hasil penelitian mereka memang luar biasa, yang tidak pernah dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan islam atau sarjana islam yang mempunyai kemampuan mendalam dalam meneliti tentang al Qur’an.

Harus diakui bahwa hasil kajian mereka membuka cakrawala berfikir kita sebagai umat islam untuk lebih objektif dalam melihat suatu masalah. Sebagai sarjana muslim hendaknya kita tidak melihat dengan kacamata kuda bahwa semua yang datang dari barat adalah buruk. Banyak hal baru yang baru terungkap oleh penelitian mereka.

Sudah selayaknya kita memandang kajian orientalis tersebut pada manfaat yang diberikan bukan hanya mengaitkan dengan konspirasi dalam usaha untuk mengalahkan islam. Tentu saja bukan berarti kita akan mengamini semua hasilnya, akan lebih bijak kalau kita melihat secara akademis dan kalaulah kita akan membantahnya bantah juga dengan kajian akademis. Semoga.

0 komentar: